Wednesday, October 17, 2012

Kolase #22 : 29 Juli 2012. Ngayau ke Pulau!

Hello again, the sea!
Hari ini ada dua agenda utama, yakni membangun gapura dan pembuatan video ke Pulau Limaujering. Agenda kedua jelas lebih ditunggu-tunggu hahaha, tapi pembangunan gapura sempat bikin ketar-ketir juga. Bayangkan, tadinya kami mau membangun gapura di lokasi yang kurang lebih 10 menit dari Munsang. Boi, itu jauh. Banget. Ngga bisa dibayangin lah gimana harus cari pick up buat angkut-angkut material. Untungnya, lokasi pindah ke depan gardu ronda Munsang, jalan kaki lima menit dari pondokan juga udah sampe. Selain itu, kami punya waktu tiga hari untuk merampungkan gapura. Kenapa buru-buru? Karena Gubernur Bangka Belitung mau datang ke Sungai Padang untuk safari ramadhan. Oh boi.
Pagi-pagi, kami ke lokasi dan bertemu tiga orang warga yang akan melakukan pembangunan gapura. Kami segera membersihkan rumpu-rumput liar yang ada di sekitar lokasi. Warga setempat kemudian membakar tumbuhan di sekitar lokasi. Mereka memang masih memakai cara ini untuk membersihkan lahan. Saya pernah liat ada lahan gosong di hutan. Ya, itu calon lahan kelapa sawit. Heran juga sih, kenapa pepohonan di area itu harus dibakar? Kalo ditebang kan setidaknya kayunya bisa dijual. Efisiensi waktu kali ya. Saya juga tidak sempat bertanya. Kembali ke gapura, warga banyak memberi kami material. Kayu dan batu kami dapatkan secara cuma-cuma. Aaaa baiknya J.  
Menjelang siang, saya dan Zidan pamit karena sudah janjian dengan Pak Buan yang akan mengantar kami ke Pulau Limaujering. Kami akan membuat video tentang keadaan alam di Munsang. Pulau ini adalah salah satu tempat tujuan wisata warga setempat di saat libur, terutama saat Idul Fitri. Sebelumnya kami memang pernah berniat ke pulau ini beberapa hari yang lalu, saat melihat penanaman rumput laut. Sayangnya air laut sedang pasang, jadi kami gagal merapat. Beruntungnya, siang itu air laut surut, jadi kami bisa merapat yaaay. Rombongan kami terdiri dari saya, Zidan, Diba, Pulung, Theo, Agil (putra sulung Babe Sapar), dan Doni (sepupu Agil). Kedua putri Pak Buan juga ikut serta.
How was it? Beautiful! Serasa punya pulau pribadi. Pulau ini seakan punya dua bagian, yakni hutan dan pantai pasir putih yang cantik. Bisa dibilang, bagian besar dan kecil pulau ini dihubungkan oleh jembatan pasir putih. Di sepanjang pantai bisa ditemukan banyak kerang yang cantik. Kalian juga bisa berenang santai di pulau ini tanpa harus khawatir terseret arus. Saya dan Diba udah pose cantik dengan latar belakang pohon dan pantai pasir putih. Sayang, musibah melanda saat transfer data memory card ke laptop. Entah kenapa memory card saya jadi ngga bisa dibaca. Untung file dokumentasi hari sebelumnya sudah dipindah dengan aman, tapi foto-foto yang saya ambil di pulau ini tidak selamat. Sedih. Banget.
Untung kamera Zidan menangkap momen-momen kami di pulau ini. Here they are!

Pulau Limaujering mulai terlihat
our private island (for a while)
  

Pak Buan, our guide

The Trees and The Sea :p

that white sand bridge

ki-ka: Pulung - Zidan - Diba - Ana - Theo - Agil

di belakang kami adalah spot berenang. ombaknya tenang.

waktunya kembali ke daratan

jembatan kayu di pelabuhan Munsang
satu-satunya foto dari kamera saya. aneh, yang berhasil recovered cuma fotonya Theo -____-

Sebagai bukti kalo kami ke sini untuk program, bukan sekedar jalan-jalan (hahaha), inilah video yang berhasil kami selesaikan.



Diba juga menuliskan perjalanan kami di sini.
Saya makin senang karena kami hanya perlu merogoh kocek Rp50.000 saja. Terima kasih atas perjalanan yang indah, Pak Buan. :)


P.S. Ngayau = pergi

Love,




No comments:

Post a Comment